I was riding my motorbike to work when this thought appeared in my mind. Tadi siang pas lagi perjalanan naik motor ke tempat kerja, seperti biasa saya terbengong bengong (saking nganggurnya) sambil nyetir. Banyak pikiran yang terlintas, salah satunya adalah: kira kira topik apa ya yang penting buat diomongin di blog? Bukan masalah penting ga penting si, cuma lama banget ga ngepos, jadi saya butuh ide.
Mungkin karena akhir akhir ini saya lagi memimpikan punya penghasilan tambahan – lebih tepatnya ‘meng-upgrade pendapatan’ (dengan cara bikin bisnis yang saya kelola sendiri), jadi kata ‘duit’ dan segala yang berhubungan dengannya terlintas deras di dalam benak. Lalu tiba tiba terpikirlah saya akan hal ini: kenapa ya akhir akhir ini aku semakin merasa, sepertinya orang orang sekitarku begitu perhitungan when it comes to money, tapi ga sebaliknya denganku (ke mereka)?
Aku tiba tiba inget gimana beberapa waktu lalu aku sempat nginep di tempat temenku, dan di
Trus aku inget lagi, gimana minggu lalu aku dibilangin (lebih tepatnya ‘dipanes panesin’) ama seorang temen kalo gaji yang sekarang aku terima lebih kecil dari yang seharusnya (lalu dia cerita gimana waktu kali pertama kerja dia menuntut gaji yang yang lebih tinggi). Tapi waktu aku cerita ke cowokku, dia dengan bijak bilang, lebih baik masalah ini ditinjau ulang di kontrak berikutnya aja daripada entar kerjaku ga ikhlas (karena emang selisihnya dikit). Dan bener, setelah aku pikir lagi, ternyata ada beberapa kelonggaran yang aku terima tapi dia (temenku tadi) ga terima. Dan ternyata, gaji dia sekarang pun jauh dari jumlah yang aku impi impikan tentang gaji tahun ke-duaku.
Belum lagi lalu aku inget ada satu temenku yang kerjaannya getol banget nawarin jualan ini itu (ini kasusnya cuma ke aku, belum ke orang orang lain) dan sepertinya sangat bersemangat mau ngelakuin apa aja demi duit (tambahan). Kesannya ni orang jadi keliatan kayak orang kalap yang ga bisa diem liat kesempatan terlewat begitu aja. Satu kata de kalo dari aku: ga ada santai santainya blasss! Mungkin karena aku orangnya super cuek, jadi tiap ditawarin, aku bilang, “Oke Mas,” trus berlalu gitu aja. Waktu aku cerita soal orang terakhir ini ke Ibuku, komentar dia cuma gini, “Ga fokus orang itu.” Bener aja. Semua semua sepertinya dikerjain. Beberapa waktu lalu aku juga dapet kabar dari temen kerjaku di tempat kerjaku yang dulu kalo sekarang dia ga lagi kerja di hari Sabtu Minggu lagi, jadi ada waktu buat istirahat. And I dunno why, I was so relieved to hear that. Atau ada seorang temen lain yang bilang, “What’s the point of having money when you don’t have time enjoying it?”
Bukan masalah aku uda berduit banyak atau apa (beberapa temen sempat berkomentar, “Wah duitnya uda banyak ni,” tiap aku bilang aku males ngerjain WANI buat dapet uang tambahan), tapi please man, give me a break! And then I remember what my mother said to me (as the owner of a business that constantly exists for more than one decade and it’s growing bigger – dan hoho, sekalian promosi ni, silahkan liat produk produk Mami saya di sini – maaf kalo websitenya belum jadi betul, hihi :b), “Lebih baik punya (satu) bisnis yang kamu kelola sendiri, tapi kamu masi ada waktu untuk istirahat, jalan jalan, seneng seneng.”
Yup, and I’m dreaming to have that kind of business. Maybe not for the early years (bisa jadi tahun tahun pertama semua bakal aku kerjain sendiri). Hhh.. so sick of those too ambitious people yang maunya dapet banyak tapi malah dapet sedikit. So.. guys, shoud I take back all the money I have ever spent for you? Would you mind giving them back to me? Karena kalo iya ni, aku pengen semuanya dibalikin, pastinya banyak banget! Argh (angry)! Gosh, is everything truly about MONEY? God helps us.






2 footprints:
interesting posting. banyak hal yg kusepakati. ehehe. btw background pink-mu kayaknya similar dengan situs ini deh no: ocehanhati.blogspot.com
Hihi iya Pak Ibnu, berarti pikiran kita sama yo. Hehe.
Oya? Wah I should check it out. Thanks for the info Pak. :)
Post a Comment