Saturday, November 08, 2008

Nostalgila tempat kerja

Perhaps it’s true that you never know what you got until it’s gone. Bukan bermaksud apa apa si, cuma tiba tiba aja teringat tempat kerjaku yang lama. I’m not saying that it’s the best place to work, but I do have some impressions that still stick in my mind.

Nama pemiliknya sebut saja Pak L. Orangnya sangat down to earth, friendly, dan suka ngasi wejangan (walopun aku ga pernah ngalamin sendiri, tapi my co-workers sempat beberapa kali mengalaminya, hihi, dan mereka sepertinya ga terlalu suka dikasi wejangan, biasa anak muda.. :b).

Aku inget waktu menjelang aku resign di sana (I was working as a part time teacher – the only type of job available there if you want to teach), waktu Pak L lagi makan di ruang makan ama istrinya, sementara aku ke dapur ngambil minum, dia bilang gini ke aku, “Mba, sampeyan katanya mau balik ke Bali? Inget lo Mba, kalo ke Malang, sampeyan ada keluarga di sini (maksudnya di tempat kerjaku itu).”

Sempat juga malam sebelumnya si Ibu ngomong gini ke aku, “Mba, sampeyan eman berhenti dari sini, padahal uda banyak murid yang suka (ucapan yang ini aku ga tau pasti kebenarannya si, hihi :b). Saya terima kasih sama sampeyan, selama ini sudah kerja di sini.”

Yup, begitulah kesan yang aku dapet dari tempat kerjaku dulu: atmosfer kekeluargaannya kentel banget. Gimana ga, karena emang usaha itu usaha keluarga. Dan ternyata suasana itu berlaku bukan cuma soal atasan, tapi di antara guru guru yang ngajar di sana (walopun I can’t deny that we also had some typical work issues seperti gosip antar pekerja, dsb). Mungkin karena most of the teachers there adalah orang orang yang aku kenal semasa kuliah, jadi kita bisa deket banget.

Biasanya kita suka ngumpul di sofa yang ditaruh di koridor yang menghadap ke taman. Uda de di sana biasanya bisa ngobrolin apa aja dan ketawa ketawi soal masalah masalah dari yang penting sampe yang ga penting (jadi inget Mba Tanti yang keranjingan Buddha’s Delight, OST Music and Lyrics, dan bakal nari nari sambil muter lagu itu keras keras dari hapenya, hihi kocak abis :D).

Atau kalo mau ngadain obrolan yang lebih intim, eh maksudnya menyangkut masalah masalah sensitif (apalagi kalo bukan gosip kantor), dua tiga orang atau lebih bakal milih satu ruang kelas yang kosong dan memulai konferensi di sana. Hihi lucu.

Dan karena di sana kita ngajar privat, otomatis hubungan ama murid jadi lebih deket. Dan setelah aku pikir pikir sekarang, ternyata ada kelebihannya ngajar privat, karena kemungkinan murid murid kita buat nakal ke kita lebih tipis. Gimana mau aneh aneh kalo di dalem kelas cuma ada satu guru dan satu murid? Perhatian pastinya tertuju ke pelajaran (atau obrolan obrolan antara murid dan guru).

Fiuh, I have to admit that I miss that time. Tempat dan waktu di mana semuanya terlihat wajar dan apa adanya. And yes, I’m missing to be a ‘wajar person’, orang yang waras dengan kehidupan yang bener bener wajar (dan hopefully ‘waras’ too). Now it’s totally different here. Can’t say how it is, but.. it’s just that this something that makes me miss to be someone I was, to be with the kind of people I was with, and the situation that let me be just – myself.

PS: lagu yang pas buat postingan ini: So Would You Let Me Be by d’cinnamons.

5 footprints:

febri :) said...

check list nya kerennn.lol
gmana cara?

kangen idp jadi nya, walopun dl jadi bosen ke sana gara2 keseringann.
yg ms tanti aku tauu!! hahahha.kita ada kelas kalo ga salah,trus ms tanti minta ost nya music and lyric sambil joged2! LOL! ROFL!

"perhatian tertuju hanya ke pelajaran".
oia?? lol

febri :) said...

ett hubungan lagu nya sama situasi nya apa ya?lol

nenoneno said...

Caranya edit lay out Feb. Di kotak buat postingan itu di edit, trus ditambahin 'reactions'..
Ho iya dong. Masi ga fokus ke pelajaran lo tak paksa. Hahaha.
Yo hubungannya menggambarkan suasana di sana aja *haiz* sendu mode on :D

Ivana said...

hehehe...tukang gosip ni ceritanya?hihihi...ketauan belangnya...

nenoneno said...

at Ivana: Gyahaha.. Yo'a Mba, can't live without gossip. Tapi batasnya wajar koq Mba. Hihi, LOL.