Sunday, November 30, 2008

The village I live in..

Although I practically go out to Denpasar (I go to malls and places in the city of Denpasar) and work in Kuta, I live in a village called Batubulan, in Gianyar regency. It’s not a small village, I can say, for my neighborhood is not the only place that is a part of Batubulan.

Actually, this is the first time I talk about the place I live in front of public. It’s maybe because since I moved back in here, I’ve gained more acquaintanceships with this place.

Even though it is in Gianyar, Banjar Pagutan Kaja (it’s like a micro village, smaller than a village) is located near Denpasar. It’s even nearer to go to Denpasar than to the city of Gianyar itself. Here is the road that divides Denpasar and Gianyar:

This is the paddyfield in front of my house. Now it’s rainy season, people are able to grow rice in wet soil. Back when I was in high school, I liked to go walking around the paddyfield with friends just to sit around and get the view (and the fresh air!) – you can actually see the glorious Mount Agung from there:

This is the road that leads to my house. The thing I like about this village, and this banjar in particular, is that it never really changes that much. This road has remained the same since the first time I was here about ten years ago:

Last not but not least, this is actually my house’s gate. It looks so ancient, don’t you think? Well, the idea came from my dad, as he is a big fan of Majapahit and its history. And that’s Ogi, my Kintamani dog. His name came from a dog doll that we (me, my bro, and sis) used to have when we were in elementary school. Now ‘ogi doll’ is no longer ‘playable’ so we took the liberty to name our beloved dog after him:

Well, that’s all about Batubulan, the village I live in. How about you? Do you live in a city, or a village like me? :)

Friday, November 28, 2008

“I hate you fuckin’ people!”

I love LITTLE MISS SUNSHINE!! It’s like my all time favorite movie – ever! I watched it again last nite untuk ga tau keberapa kalinya. And I still felt the same thing about this movie: I laughed and cried at the same time.

Benernya aku uda pernah nulis tentang how I feel about this movie di blog friendsterku yang udah almarhumah, but I’m gonna write it down again anyway. ;)

The best scene (karena menurut saya paling emosional) from this movie adalah waktu Olive lagi nyoba tes mata ke kakaknya, Dwayne (he’s my favorite character in the movie, cause he seems so real), yang ternyata dari keisengan ini Dwayne yang bercita cita jadi pilot pesawat jet jadi tau kalo dia ternyata buat warna. Setelah dikasi tau pamannya, Frank, kalo orang buta warna ga bisa nerbangin pesawat jet, Dwayne mendadak panik dan menggedor gedor dinding dan jok mobil.

Lalu terjadilah ‘pendaratan mendadak’, dimana Dwayne lari keluar dari van ke tanah lapang di pinggir jalan sambil meneriakkan kata pertamanya (setelah sembilan bulan puasa demi meraih cita cita), “Fuuucccckkkk..!!”

The thing that amazed me the most is that gimana Dwayne di situ “mengomentari” soal keluarga dia, setelah mamanya, Sheryl, minta dia buat balik ke mobil.

Sheryl: “Dwayne, for better or worse, we’re your family.”

Dwayne: “No, you’re not my family! I don’t wanna be your family! I hate you fuckin’ people! I hate you! Divorce, bankruptcy, suicide! You’re fuckin’ losers, you’re losers!”

Again, the thing that amazed me the most is that gimana film ini ga nyoba untuk bikin gambaran sebuah keluarga yang sempurna. Perceraian, keadaan keuangan keluarga yang lagi bankrut, bunuh diri, bukan bagian yang bagus to be added up in a family situation. For Dwayne’s case, keluarganya yang sekarang adalah hasil nikah ke dua mamanya. Jadi papanya yang sekarang adalah papa tiri en Olive (yang mau ikut kontes kecantikan Miss Little Sunshine) adalah adik tirinya.

However, sometimes that’s the reality in many people’s life. Film ini ga nyoba untuk nutupin itu, tapi juga ga coba memandang masalah itu dengan nada suram muram (dibuktiin dengan waktu Dwayne neriakan semua isi hatinya di atas tadi, langit di belakangnya lagi sangat cerah dengan warna biru muda dan putih, dan ga lupa ada VW combi warna kuning terang menyala nyala di belakang dia – sungguh suasana yang bikin ati ceria).

Makanya ga heran ni film bisa bikin ketawa dan nangis di waktu yang sama! Saya sangat menikmati kejujurannya. ;) Mungkin lesson yang bisa diambil dari film ini adalah gimana sometime how chaotic our family condition is, we can’t really choose our family (as when Dwayne says, “I don’t wanna be your family,” indicates as if he can choose to be or not to be a part of his ruined family). Instead of being able to choose our family, we have the option to fix problems and try to make the condition as the way we want it to be. – btw, ini saya koq kayak lagi bikin analisis film aja yah? Jadi inget jaman kuliah dulu. Hahaha! :D

Whatever people say about this film (or maybe what you might think about what I’m about to say), this film is a LITERATURE to me (anyway, do I sound trashy? Hahaha, I don’t think so! :D), cause it’s real. LOVE IT LOVE IT LOVE IT!

Ps: foto itu maksudnya adalah coretannya Dwayne (pas mogok ngomong dia make media mini notebook buat komunikasi ke orang orang), “I hate everyone” was meant to be to Frank.

Wednesday, November 26, 2008

I've been tagged!

Yippee.. I’ve been tagged! And this is my second tag. Thanks to my sweet new blogger friend from Malaysia, SweetyHoneyzz (Erna).

This time, tag-nya agak beda, karena bukan 10 FACTS ABOUT YOU seperti yang sudah sudah, tapi tentang isi tasmu! Benernya si tas tangan, but you know what, I don’t have a handbag. Instead of bringing a handbag to work, I bring my backpack. Alasannya karena backpack lebih sehat buat badan, enak dibawanya, dan kalo pengen bawa Mac tinggal masukin aja. This is it:

So you know, I’m a messy person, so I basically just put everything inside my bag and never really care about how they look like in there. Hehe. Inilah isi tas saya – jeng jeng..:

Apa aja yang ada di dalam sana? Ini perinciannya (dari kiri ke kanan, hihi ;b):

1. Dompet. Ini dia barang paling penting di antara semua yang ada di tas. Kalo ga bawa dompet ga bisa beli beli, ga bisa narik uang, ga bisa nyewa VCD (KTP booww.. btw heran juga KTP jaman sekarang fungsi utamanya buat nyewa pelem yah?!), trus kalo ada setopan/ cegatan (apa aja namanya tu..) kemungkinan bakal ditilang karena SIM ada di dalem situ!

2. Sarung tangan warna putih kuning. Bukan, bukan karena Bali dingin (ada tu orang aneh yang nanya, “Kamu gila pake sarung tangan panes panes gini?!”). Memang terdengar gila, tapi mending pake sarung tangan daripada ngebiarin tangan gosong kepanggang matahari Bali. Ini dipake pas berangkat kerja siang siang.

3. Buku tabungan BCA. In case tiba tiba perlu atau pengen mampir ke bank buat ngeprint. Hehe.

4. Yang kain warna pink panjang ada tulisan dan gambar Doraemonnya itu adalah gantungan kunci Mio (berarti plus kuncinya ada di sana). Dulu punya yang Elmo, tapi diboyong Febri ke Aus, dengan alasan, “Di sana kan ga ada Stroberi tow?”

5. Kotak pensil Monokuroboo item putih. Uda punya dari jaman semester akhir kuliah. You know as a teacher, this element is very important! ;P Isinya: pensil, pulpen, penghapus, stabilo, spidol, penggaris, stepler, selotip, paper clip, post-it, flashdisk. Serasa lengkap sekalee.. tinggal gunting en meja belajar yang belum. Hahaha :D

6. McD’s French fries mini notebook. Lumayan lucu. Dapet dari beli majalah SPICE! (though I don’t really like the mag).

7. Kleenex tissues, my favourite brand. Suka yang ini karena wangi. Dan biasanya buat jaga jaga, suka naruh satu pak kecil di dalem tas.

8. Majalah CHIC edisi terbaru. Benernya main taruh aja di dalem tas, in case dimana aja kalo lagi bosen bisa buka buka dan baca baca, daripada bengooonngg.. ya ga?! Yaaaa..!!

9. Hape 5610 sayah tercinta beserta headsetnya (biar tetep bisa enjoy musik tanpa menggangu orang lain – iya dong, saya kan cewek CHIC – gagaga, promo!). Tapi biasanya hape ga ditaruh dalem tas, tapi diselipin di jaket apa celana. Hehe ;b

10. Yang paling kanan warna abu abu itu semacam beauty case. Di bawah ini bakal dibahas sendiri apa aja isinya.. (dari kiri ke kanan yaahh..):

1. Revlon ColorStay Mineral Foundation – my favourite bedak! Kakakak :D 2. Revlon ColorStay lipstick, warna bibir. 3. Yang paling belakang, rada samar itu adalah sehelai Kotex Slim Wing buat jaga jaga. Hehe :P 4. Sisir item kecil. Benernya jarang dipake. Intinya buat jaga jaga dan keliatannya “uda bawa sisir” aja (ceritanya ditenteng tenteng kemana mana tanpa arah dan tujuan..). 5. Oriflame Dual Skin Corrector. 6. One pack of tissues lagi. 7. Minyak kayu putih CapLang. Buat jaga jaga kalo mual ato kenapa napa di tengah jalan. 8. Revlon lipgloss. 9. Nike Woman deodorant.

Yup yup, sekianlah isi dalam dompet, eit salah, tas saya. Dengan ini saya umumkan yang berhak mendapatkan tag berikutnya adalaaahhh.. (tretet tretet):

Febri, Debo, Sintia, Winda, Rani, Putri, Eve, Adon, dan.. um.. sapa lagi yah (btw, ada yang mau ditag ga?)?

*keprok keprok*

OK de people, buat yang sukses saya (ke)tag di atas, selamat ngecek isi tas dan moto moto tu isi tas beserta barang barang ga penting di dalemnya. Mari ngakak: HUAKAKAKAKAKAK! :D

Tuesday, November 25, 2008

.. and I’ve got my mood back!

Benernya awalnya pengen nulis soal weekend kemaren, what did I do, where did I go, who did I go with, tapi sepertinya pikiran sudah teralihkan entah kemana. Hehe.

Uda lama banget ga ngepos dan bingung mau mulai darimana. Well, hari Sabtu kemaren cukup menyenangkan. Because I spent (a quality) time with people I know (they’re friends at work, walopun kenal ga lama) and it felt like I was being myself for the very first time, for such a long time! Kakakak. Jadi ga kebayang de gimana rasanya. Luega puol (anyway, lebay banget ni statement..)!

Dari pagi sampe siang menjelang sore aku tidur (karena begadang – duh, padahal uda ga boleh! XD), trus jam lima ketemuan di kantor Denpasar, dan kita berangkat bareng ke MBG buat siap siap nonton (James) Bond. Eitts.. sampe sana ternyata tiket yang jam tujuh SOLD OUT, jadi kita pesen tiket yang jam sembilan. Karena bayarnya pake kartu debetnya Mba Ver, kita dapet diskon. Satu orang bayarnya cuma 12,500 perak. Mayaaann.. :)

Lalu tak lupa aku mampir ke Strawberry membeli beberapa botol nail polish idaman (duh, norak amat si bahasanya?!). Sayangnya waktu di sana ga ketemu muridku (kakakak – sekarang ga ketemu malah ngarep! :b), tapi sempet ngeliat salah seorang murid waktu lagi rame rame nunggu beli tiket di 21 (dunia, eit salah, Denpasar ini memang sempiitt..).

Trus trus.. untuk mengisi waktu, kita (btw “kita” ini adalah aku, Bhatari, Mba Verra, Mba Etty, Allan) jalan jalan nyari makan, sambil muter muter Kuta dulu. Sempat berhisteris ria waktu nemuin toko yang mirip mirip distro, tapi ga taunya nothing interesting there. :(

Anyway, ngomong ngomong soal James Bond (walopun ga ngefan – bahkan sama sekali ga!), entah kenapa aku ngerasa James Bond yang baru ini bener bener emosional banget. Aku bahkan curiga jangan jangan sutradaranya adalah seorang perempuan! Hehehe. Tapi satu si yang caught my attention, lagu pembuka dan animasi pas openingnya oke banget – bagus! Mba Ver bahkan langsung tau gitu kalo yang nyanyi pasti dari the White Stripes. Eits, ternyata benar, lagunya yang ngebawain Jack White en Alicia Keys (waw..).

Hari Minggu besoknya, eh ga taunya Rani dateng ke rumah beserta rombongannya (katanya abis jalan jalan dari Karangasem), ada Agustra dan Wahyu yang juga temen SMAku. Akhirnya de kita kayak reuni mini (selain juga ngomongin masalah reuni TRISMA 24 yang Desember entar).

Dan akhirnya Senin lagi, trus Selasa. Entah kenapa mau ngepos soal weekend moodku uda berubah rada ga enak karena kejadian di kerja en so on en so on. Trus tiba tiba pas aku ngenet tadi, ada sesuatu yang bikin moodku balik ke asal: ternyata my bf bikin blog! Huahahuhuhuhu (tertawa senang campur haru). Entah kenapa tiba tiba mood kembali ke awal. Dan aku pun bersemangat lagi buat nulis postingan ini! :D

Thursday, November 20, 2008

Adite.3gp

Perkenalkan, ini Adit. Hari ini dia mau nunjukin video sulap sulapan dia yang dibikin bareng temen temen sekelasnya, at my school. Enjoy..

video

Lucu. Adit lucu. Bahkan semua murid murid di kelas dia lucu lucu, selalu menyenangkan. Wish I can tell that to their parents how blessed they are to have such amusing kids like them. Wish I can just hug them all now. XOXO

Ps: video ini aku dapet minggu lalu, sebelum kelas kita berakhir. Dua hari lalu, the girls from the class mencariku ke ruang guru dan bertanya, “Miss kapan ngajar kita lagi?” Duh terharu.. I can just cry right now..

Semangat nak!

Yang semangat ke sekolahnya ya Nak! Entar kalo uda gede jadi presiden (yang ini cuma Tuhan yang tau. Amin.. :))

Keterangan: yang ngambil foto Adon di sebuah jalan di Malang, make kamera hape.

Tuesday, November 18, 2008

It won’t be so interesting if we don’t win

First of all, maap kalo judulnya kepanjangan, abis I couldn’t find better words to describe. Hehe :b

Jadi ceritanya kata kata ini dimulai hari Senin lalu waktu aku lagi ngajar a bunch of kids in my kids class. Waktu itu cuma ada tiga anak cewek plus tiga anak cowok. Untuk pemanasan, aku ngajakin mereka main kartu, dimana intinya adalah ngumpulin kartu sebanyak banyaknya yang diambil dari tumpukan kartu temen.

There was this small girl, energetic, smart, and independent. Waktu itu kita maen tiga babak (ludruk kali ye.. :D). Di putaran pertama anak cewek ini ngumpulin lumayan banyak kartu, tapi di putaran ke dua dia ga berhasil ngumpulin satu kartu pun. Setelah putaran ke dua berakhir, mulai males malesanlah dia. Bahkan waktu temen temennya minta maen satu putaran lagi, dia malah bilang, “Miss, I don’t wanna play, I just wanna sit on my chair.” Jelas banget kalo dia ga mau maen karena she didn’t want to lose again (mengingat di putaran pertama dia begitu bersemangat karena dia menang).

Trus ada satu anak cowok, he’s a bit lazy and naughty, and not as fast as the other students, or infact, he’s probably the slowest of them all. Putaran pertama dia masi bisa ngikutin. Tapi di putaran ke dua dia mulai loyo. Pertama, mungkin karena dia kurang bisa ngapalin kata kata dalam bahasa Inggris yang kita pake. Dan ke dua, I felt like he didn’t even try to read (I wrote all the English words and vocab on the board) and memorize them. It just seemed that he was not really in the game. Putaran ke tiga dia semakin loyo. Sampe sampe sepertinya dia pasrah kartu kartunya diambil gitu aja ama temen temennya. Bahkan dia sempat beberapa kali bersenandung, “I’m loser, I’m loser.”

So how should I deal with that? Si anak cewek pertama, waktu dia mau quit, aku bilang, “It’s OK, just join the game,” sambil sedikit memaksa. Dan akhirnya dia ikutan main juga. Dan ga taunya, di babak ke tiga dia ngumpulin lumayan banyak kartu lagi. Imagine kalo aku biarin dia ga ikut, dia ga mungkin tau kalo dia bisa menang kan?

Dan si anak cowok? Well, maybe it’s because he’s a bit stubborn and naughty as well. Berkali kali waktu dia males malesan dan bilang, “I’m loser,” to himself, I said to him, “How would you know if you’re gonna win or not if you’re not gonna even try? You should try first, and then you’ll know.” But useless, si anak tetep keukeuh kalo he deserved to lose (and called himself ‘a loser’ – in that age, o gosh!).

And it’s not that I’m trying to be wise here (trust me, I’m like the most unwise and uncool person ever, LOL!). It’s just that I did what I did because my profession asked me to do so. Adalah mencengangkan juga (walopun sepele) gimana anak anak ini uda bisa ngerti masalah menang - kalah. They lost all their interests in that game after finding the fact that they had lost.

Dan ada berapa banyak dari kita yang (memutuskan) nyerah ngelakuin sesuatu karena kita ngerasa ga bakal ada kesempatan buat menang (di samping kalah di permainan sebelumnya)? Lots, I guess! Kalo nurut aku, it’s better ngeliat sesuatu yang kita kerjain berdasar harapan kita tentang apa yang pengen kita capai, bukan sebaliknya. Bahasa kerennya, see the glass as half full. Kekeke.

Btw, dari ngomongin anak anak di kelas koq sampe ke situ ya? Hmm.. Anyway, di akhir kelas, kita ngadain satu permainan lagi. In the previous game, I separated the girls into one team, and the boys also into one team. Dan ternyata dengan cara ini kelompok anak laki laki banyak kalahnya. Untuk menyiasatinya, akhirnya aku pisah mereka ke dalam tiga kelompok yang masing masing isinya satu orang cowok dan cewek. Dan hasilnya: mereka lebih senang dan gembira, karena mereka lebih bisa saling menyusul dan kemampuan mereka yang rata rata sama. Tapi yang pasti, sau hal yang aku yakin jadi alasan mereka semangat lagi: mereka tau, mereka semua punya kesempatan yang sama untuk MENANG.

Duh, hari ini tiba tiba saya merasa jadi orang paling positif sedunia. Hahaha - LOL.

Saturday, November 15, 2008

Es jeruknya dingin apa panas?

Ada kejadian kecil yang lumayan lucu tadi. Jadi, me and my bf was about to eat lunch di sebuah rumah makan Chinese food di daerah Tanjung Bungkak (moga bener nama daerahnya) tadi siang. Setelah aku tulis pesenan kita, dimana kita sama sama pesen es jeruk untuk minumnya, seorang pelayan yang kebetulan seorang ibu ibu, menghampiri meja kita dan lalu mengeluarkan kata kata ajaib ini:

“Es jeruknya dingin apa panes?”

Setelah itu kita terdiam selama dua detik (benernya aku bengong agak lebih lama dari my bf). Untung my bf cepet tanggap (in which di waktu yang sama aku masi nge-loading, mikir, “kayaknya ada yang salah de ama pertanyaan si ibu ni. Tapi apa ya??” – stupid!) dan bilang, “es jeruk, bu, es jeruk.”

Dan.. setelah saya sadar.. HUAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA! Of course, aku ga ngakak sekenceng ini di sana. Tapi sumpah, ni ibu gokil abis! :D Yah mana ada es jeruk panes (kecuali ada yang baru buat, hehe)? Si ibu yang juga tiba tiba sadar ada yang salah ama pertanyaannya, setelah beberapa kali dikasi tau pesenan kita adalah es jeruk, lalu segara beranjak sambil ngomong, “oya ya, es jeruk ya.”

Jujur kita berdua mikir, niat si ibu ini baik banget. Karena pastinya yang ada dalam pikiran beliau adalah, jangan sampe dia bawa pesenan yang salah ke meja kita. And my bf actually thinks that she’s a really good waitress. Dan waktu akhirnya dua gelas es jeruk (dingin, tentunya, hehe) dianterin sama si ibu itu, beliau ngomong lagi ke kita, “maaf tadi saya bingung.” And I said, “gapapa, Bu. Makasi (as she served the orange juice on the table, in front of me).”

Hihi ada ada aja. Seenggaknya kita berdua dapet hiburan gratis siang tadi. :D

Thursday, November 13, 2008

Success follows experience

Mayan.. dua hari lalu nonton film Freedom Writers (well, yes, ini film lama, tapi baru aku tonton kemaren. Yup, saya emang gitu, ga pernah nonton film pas lagi hot hot-nya di tipi atau pas lagi heboh diomongin orang orang, maleess..).

Ada satu kata yang nyantol di otak sekaligus bikin semangat lagi: success follows experience! Kata kata ini keluar waktu si guru (Ms. G) yang diperanin Hilary Swank, cerita ke Papanya gimana keadaan di sekolah dan gimana murid murid di sana ga seperti yang dia bayangkan (kebanyakan dari mereka adalah juvenile delinquents, hidup dalam kemiskinan dan terlibat masalah geng, drugs, kekerasan, pembunuhan).

Ms. G minta pendapat apa yang harusnya dia lakukan, should she stay or should she leave. Trus Papanya itu nyaranin dia untuk tetep nerusin kerjaan itu selama setaun, dan setelah itu dia bisa ntari kerjaan lain. And then he said, “.. cause success follows experience.”

Woots.. sejenak langsung kata kata ini nyantol di otak. Emang si di film itu akhirnya Ms. G stays, tapi tetep.. bener juga apa yang diomongin Papanya. Lalu aku jadi mikir, uda berapa lama si aku mendalami kerjaanku yang sekarang, koq pengen banget buru buru dapet yang enak enakan (gyahaha, sounds familiar everyone? :D).

Anyway, karena itu film tentang seorang guru, aku jadi kebayang, kalo aku jadi Ms. G, kayaknya aku ga mungkin de bertahan kayak dia. I mean, she’s great (as pictured in the film). Bisa bisa tiap hari aku bakal nangis terharu biru kalo punya murid murid seperti itu atau malah stress karena ga tau cara ngadepinnya gimana. Jangankan ngalamin langsung, liat filmnya aja aku mewek beberapa kali. Duh duh..

Well, this is just a thought. Success follows experience. And I believe this applies to every career path that we all have chosen. Wah, semangat lagi ni! :)

Wednesday, November 12, 2008

Kucing gulung*, anyone?

Anyway, these are the pictures of my cat, Whitty White (yes, he actually has his own first and surname), taken weeks ago. He was sleeping on a sack of milk powder in the office at home, when one night while I was using the Internet, he decided to join me and fell asleep. It rained hard that night, and I bet at that time he must feel really cold.

* bahasa kerennya: rolled cat, kayak rolled egg (maksudnya ni dadar gulung) apa rolled cake (maksudnya ni bolu gulung) apa rolled sushi gitu.. :D

Saturday, November 08, 2008

Nostalgila tempat kerja

Perhaps it’s true that you never know what you got until it’s gone. Bukan bermaksud apa apa si, cuma tiba tiba aja teringat tempat kerjaku yang lama. I’m not saying that it’s the best place to work, but I do have some impressions that still stick in my mind.

Nama pemiliknya sebut saja Pak L. Orangnya sangat down to earth, friendly, dan suka ngasi wejangan (walopun aku ga pernah ngalamin sendiri, tapi my co-workers sempat beberapa kali mengalaminya, hihi, dan mereka sepertinya ga terlalu suka dikasi wejangan, biasa anak muda.. :b).

Aku inget waktu menjelang aku resign di sana (I was working as a part time teacher – the only type of job available there if you want to teach), waktu Pak L lagi makan di ruang makan ama istrinya, sementara aku ke dapur ngambil minum, dia bilang gini ke aku, “Mba, sampeyan katanya mau balik ke Bali? Inget lo Mba, kalo ke Malang, sampeyan ada keluarga di sini (maksudnya di tempat kerjaku itu).”

Sempat juga malam sebelumnya si Ibu ngomong gini ke aku, “Mba, sampeyan eman berhenti dari sini, padahal uda banyak murid yang suka (ucapan yang ini aku ga tau pasti kebenarannya si, hihi :b). Saya terima kasih sama sampeyan, selama ini sudah kerja di sini.”

Yup, begitulah kesan yang aku dapet dari tempat kerjaku dulu: atmosfer kekeluargaannya kentel banget. Gimana ga, karena emang usaha itu usaha keluarga. Dan ternyata suasana itu berlaku bukan cuma soal atasan, tapi di antara guru guru yang ngajar di sana (walopun I can’t deny that we also had some typical work issues seperti gosip antar pekerja, dsb). Mungkin karena most of the teachers there adalah orang orang yang aku kenal semasa kuliah, jadi kita bisa deket banget.

Biasanya kita suka ngumpul di sofa yang ditaruh di koridor yang menghadap ke taman. Uda de di sana biasanya bisa ngobrolin apa aja dan ketawa ketawi soal masalah masalah dari yang penting sampe yang ga penting (jadi inget Mba Tanti yang keranjingan Buddha’s Delight, OST Music and Lyrics, dan bakal nari nari sambil muter lagu itu keras keras dari hapenya, hihi kocak abis :D).

Atau kalo mau ngadain obrolan yang lebih intim, eh maksudnya menyangkut masalah masalah sensitif (apalagi kalo bukan gosip kantor), dua tiga orang atau lebih bakal milih satu ruang kelas yang kosong dan memulai konferensi di sana. Hihi lucu.

Dan karena di sana kita ngajar privat, otomatis hubungan ama murid jadi lebih deket. Dan setelah aku pikir pikir sekarang, ternyata ada kelebihannya ngajar privat, karena kemungkinan murid murid kita buat nakal ke kita lebih tipis. Gimana mau aneh aneh kalo di dalem kelas cuma ada satu guru dan satu murid? Perhatian pastinya tertuju ke pelajaran (atau obrolan obrolan antara murid dan guru).

Fiuh, I have to admit that I miss that time. Tempat dan waktu di mana semuanya terlihat wajar dan apa adanya. And yes, I’m missing to be a ‘wajar person’, orang yang waras dengan kehidupan yang bener bener wajar (dan hopefully ‘waras’ too). Now it’s totally different here. Can’t say how it is, but.. it’s just that this something that makes me miss to be someone I was, to be with the kind of people I was with, and the situation that let me be just – myself.

PS: lagu yang pas buat postingan ini: So Would You Let Me Be by d’cinnamons.

Friday, November 07, 2008

Does everything have to be about: MONEY?

I was riding my motorbike to work when this thought appeared in my mind. Tadi siang pas lagi perjalanan naik motor ke tempat kerja, seperti biasa saya terbengong bengong (saking nganggurnya) sambil nyetir. Banyak pikiran yang terlintas, salah satunya adalah: kira kira topik apa ya yang penting buat diomongin di blog? Bukan masalah penting ga penting si, cuma lama banget ga ngepos, jadi saya butuh ide.

Mungkin karena akhir akhir ini saya lagi memimpikan punya penghasilan tambahan – lebih tepatnya ‘meng-upgrade pendapatan’ (dengan cara bikin bisnis yang saya kelola sendiri), jadi kata ‘duit’ dan segala yang berhubungan dengannya terlintas deras di dalam benak. Lalu tiba tiba terpikirlah saya akan hal ini: kenapa ya akhir akhir ini aku semakin merasa, sepertinya orang orang sekitarku begitu perhitungan when it comes to money, tapi ga sebaliknya denganku (ke mereka)?

Aku tiba tiba inget gimana beberapa waktu lalu aku sempat nginep di tempat temenku, dan di sana dia (dengan tampang sedikit serius dan prihatin) sambil lalu cerita gimana belakangan kemaren ada seorang temennya yang pinjem uang ke dia dan sampai hari itu belum dikembaliin. Waktu aku tanya berapa jumlahnya, jawabnya, “Dua lima ribu.” Well, to be honest, aku pernah punya masalah ama duit (and I thank God was still there, having some mercy on me) yang jumlahnya juauh berlipat lipat lebih banyak dari itu, dan aku merasa biasa biasa aja. Dan tentu aja ucapannya itu bikin aku kaget mengingat keadaan finansial keluarganya yang cukup baik (sangat, bahkan).

Trus aku inget lagi, gimana minggu lalu aku dibilangin (lebih tepatnya ‘dipanes panesin’) ama seorang temen kalo gaji yang sekarang aku terima lebih kecil dari yang seharusnya (lalu dia cerita gimana waktu kali pertama kerja dia menuntut gaji yang yang lebih tinggi). Tapi waktu aku cerita ke cowokku, dia dengan bijak bilang, lebih baik masalah ini ditinjau ulang di kontrak berikutnya aja daripada entar kerjaku ga ikhlas (karena emang selisihnya dikit). Dan bener, setelah aku pikir lagi, ternyata ada beberapa kelonggaran yang aku terima tapi dia (temenku tadi) ga terima. Dan ternyata, gaji dia sekarang pun jauh dari jumlah yang aku impi impikan tentang gaji tahun ke-duaku.

Belum lagi lalu aku inget ada satu temenku yang kerjaannya getol banget nawarin jualan ini itu (ini kasusnya cuma ke aku, belum ke orang orang lain) dan sepertinya sangat bersemangat mau ngelakuin apa aja demi duit (tambahan). Kesannya ni orang jadi keliatan kayak orang kalap yang ga bisa diem liat kesempatan terlewat begitu aja. Satu kata de kalo dari aku: ga ada santai santainya blasss! Mungkin karena aku orangnya super cuek, jadi tiap ditawarin, aku bilang, “Oke Mas,” trus berlalu gitu aja. Waktu aku cerita soal orang terakhir ini ke Ibuku, komentar dia cuma gini, “Ga fokus orang itu.” Bener aja. Semua semua sepertinya dikerjain. Beberapa waktu lalu aku juga dapet kabar dari temen kerjaku di tempat kerjaku yang dulu kalo sekarang dia ga lagi kerja di hari Sabtu Minggu lagi, jadi ada waktu buat istirahat. And I dunno why, I was so relieved to hear that. Atau ada seorang temen lain yang bilang, “What’s the point of having money when you don’t have time enjoying it?”

Bukan masalah aku uda berduit banyak atau apa (beberapa temen sempat berkomentar, “Wah duitnya uda banyak ni,” tiap aku bilang aku males ngerjain WANI buat dapet uang tambahan), tapi please man, give me a break! And then I remember what my mother said to me (as the owner of a business that constantly exists for more than one decade and it’s growing bigger – dan hoho, sekalian promosi ni, silahkan liat produk produk Mami saya di sini – maaf kalo websitenya belum jadi betul, hihi :b), “Lebih baik punya (satu) bisnis yang kamu kelola sendiri, tapi kamu masi ada waktu untuk istirahat, jalan jalan, seneng seneng.”

Yup, and I’m dreaming to have that kind of business. Maybe not for the early years (bisa jadi tahun tahun pertama semua bakal aku kerjain sendiri). Hhh.. so sick of those too ambitious people yang maunya dapet banyak tapi malah dapet sedikit. So.. guys, shoud I take back all the money I have ever spent for you? Would you mind giving them back to me? Karena kalo iya ni, aku pengen semuanya dibalikin, pastinya banyak banget! Argh (angry)! Gosh, is everything truly about MONEY? God helps us.

Monday, November 03, 2008

My first award..

Waahh.. thanks untuk Areena buat awardnya. I hope I’m doing it right, though. Heheh :p

OK, here are the rules to follow:

1. Letakkan logonya di blogmu.

2. Berikan sebuah link kepada orang yang telah memberimu award.

3. Menominasikan sedikitnya 7 blog.

4. Menambahkan link kepada orang-orang yang diberikan nominasi di blog anda.

5. Tinggalkan pesan kepada nominatormu.

And the award goes to..

1. Febri

2. Putri

3. Rani

4. Sintia

5. Winda

6. Eve

7. Ardie

Buat temen temen yang disebut di atas, awardnya buruan diambil ya (baru kali ini yang menang ngejemput sendiri pialanya, hehe :b). Thanks thanks again.

Saturday, November 01, 2008

What I did on Saturday..

Yey, weekend! Ini dia dua hari dimana ga perlu ribet deg degan mikirin (dan nyiapin) kerjaan. So what did I do? Well, hari Jumat aku uda janjian mau nemuin Bhat di kantor Hayam Wuruk buat ngambil (sekaligus melunasi, gyahaha) CD A7X yang aku nitip beliin dia di Surabaya. Tumben ni bangun ‘agak’ pagi. Langsung mandi, makan, sambil nonton Insert, Jelang Siang, and Ceriwis sekaligus. Kenyang makan, kenyang hiburan. Trus agak sorean berangkat de saya.

Sesampainya di sana (hiyyaahh..), transaksi langsung dilaksanakan. Rencananya si abis dari sana langsung cabut ke Disctarra di MBG buat nyari CD Jason Mraz (salah satu benda in my ‘things what I’m craving for’ list). Akhirnya, dengan sedikit iming iming ke Bhat (yang awalnya bilang, “Yah, ke sana sekarang ya? Entaran ae po’o.. bentar lagi..” – well, dia lagi ngerjain WANI, ngejar setoran ni ceritanya.. hihi), akhirya cuma perlu waktu setengah jam buat ngajak Bhat ikut. Gyahaha.. serasa irresistible, padahal ga (huek huek, saya jadi eneg sendiri ngebayangin diri saya yang irresistable. LOL. :D).

Lalu berangkatlah kita.. Langsung ke Disctarra, dan setelah melihat lihat dan berkesimpulan sementara kalo yang dicari cari ga ketemu, aku (dengan sedikit desakan Bhat) akhirnya nanya ke mas mas yang jaga di sana, “Jason Mraz-nya ada ga, Mas?” Mas-nya bilang, “Ga ada, Mba. Abis.” Setelah aku pikir pikir sekarang, ya jelas aja ga ada, dia (si Jason) mungkin lagi di rumahnya kaliii.. Gyahaha, bukan orangnya, tapi CD-nya dodol! LOL.

Duuhh.. koq bisa ga ada ya? Padahal albumnya lumayan baru tu, keluarnya taun ini.. Mas di situ bilang mungkin ada di Centro (bukan toko yang sama). Mau ke Centro di jam yang mendesak gitu? Ga mungkin de.. Akhirnya kita jalan jalan lagi. Mampir ke Strawberry (again and again).. dan.. tebak de apa yang terjadi (ye meneketehek dah?)? Di sana aku ketemu muridku di tempat itu untuk yang ke dua kalinya! Kali ini muridku yang cowok (dulu cewek). Duh duh.. trus pas aku bilang ke Bhat (karena pas kali pertama ketemu muridku juga pas ke sana ama Bhat), eh dia malah ngomong gini, “Dasar, emang ga pantes jadi guru kamu ini.” Dalam hati aku mikir, pantesnya jadi murid. Gyahahaha, LOL. :D

Akhirnya ga jadi beli CD malah berakhir beli sehelai (haiz, emang apaan ya?) t-shirt (oh no, not again?!) yang super cute (gyahahah, lebay!). Diskonan booww.. bole dong. :b Sementara Bhat berhasil beli facial soap tea tree yang diidam idamkan di Body Shop.

Abis nganterin Bhat kembali ke peraduannya (gyahaha, super lebay dot com dah), aku langsung berangkat ke Tiara food point (lantai 2). Ibu ngajakin makan di luar. Ya uda de kita ke tempat makan favoritnya (sepertinya uda keseringan banget ke tempat ini..).

Dan akhirnya oh akhirnya.. dapet juga CD Jason Mraz walopun aspal seharga sepuluh ribu rupiah di S****A (hayah, gaya pake disembunyi sembunyiin segala, pastinya yang berdomisili di Denpasar uda tau apa nama tempat ini dan dimana alamatnya. Hehehe. :b). Mayan.. :)

Ngomong ngomong soal Disctarra, menurut Mba Vera tadi, katanya emang tu toko uda mau tutup, makanya ga ada barang baru, cuma ngabisin stok yang lama. Hm.. bener ga ya, soalnya tadi ada koq album album baru macam albumnya Metallica yang baru. Tapi yang jelas aneh de kalo di Bali ga ada toko musik yang lengkap (dan asli!). Sumpah rasanya terlalu aneh. Bali gitu loh (so what?! LOL).

Trus trus, pas tadi iseng googling ‘Jason Mraz album’, nemu satu forum yang judulnya ‘Jason Mraz’s album is sold at Fueled by Ramen webstore’. Hyaks. Apa hubungannya FBR ama Jason Mraz? Emang jenis musik mereka nyambung yah? Karena bahasa orang orang di sana kelewat ajaib dan otak saya kelewat lemot (cuma satu kata yang aku ngerti dengan bener, yaitu ‘dipshit’ – gyhahahahaahhahahahaahahah, mbanyol!), maka dari itu aku ga terlalu ngerti apa inti masalahnya.

Well well, dan untuk menutup hari ini, pas perjalanan pulang, saya kehujanan. Siiiaaalll.. ga bisa entar entar aja ni ujan. Dan seperti biasa di daerah Penatih banjir (sampe ada mobil yang mogok). Dan nyampe rumah, karena make jas ujan, sampe sampe anjingku Ogi ga ngenalin aku siapa. Sampe akhirnya aku panggil panggil namanya, baru de dia sadar ini yang punya rumah. Dasar.. Ya uda de, akhirnya setelah makan lagi, aku nulis ni postingan. Dan sekarang, cuaapppeee buanget! Istirahat dulu ahh.. :)