Monday, January 26, 2009

I’m moving out!

Hi all. It’s so glad that I’ve finally found my new home. I’ve been having some problems with blogger.com in the past few days. In order to maintain my blog and its contents in good (readable) condition, recently I moved out to wordpress.com. Don’t worry, you can still follow my updates, do blogwalking, leave comments, etc in it. And for those who have exchanged links, I’ll put your links in my blog as soon as I can. So.. here’s my new home:

http://cantstopsmiling.wordpress.com

Looking forward to your visit soon!

Warm regards,

nenoneno

Thursday, January 22, 2009

Street: the place I curse the most!

Yep, emang ga bisa dipungkiri lagi kalo tempat dimana saya paling sering mengumpat aka misuh adalah pas di jalan! Pastinya ini juga yang ada di pikiran banyak orang. Saya sendiri tiap harinya harus menempuh jarak sejauh 40 (empat puluh) menitan dari rumah ke tempat kerja untuk berangkat aja. Yang berarti kalo ditotal berangkat – pulang, saya harus menempuh perjalanan selama lebih kurang 90 (sembilan puluh) menit aka satu setengah jam. Belum lagi saya cuma seorang pengendara sepeda motor, yang artinya: apalah daya saya hanya meng-occupied (bahasa apa ini?!) sebagian kecil dari jalan raya yang besar itu.

Setelah satu kejadian yang mengesalkan di jalan, biasanya secara otomatis keluar kata kata semacam: jancuk (saya melontarkan ini sambil berpikir mudah mudahan orang yang bersangkutan ga ngerti artinya – walopun saya ragu juga, karena akhir akhir ini saya sering sekali denger murid murid saya bilang jancuk atau saling memanggil dan bertegur sapa dengan imbuhan cuk di belakang kalimat. Hm, bisa jadi kata cuk dan jancuk emang sedang hype di Denpasar. Haha! :D), lalu lalu kata lain semacam: fuckin’ hell, shit, fuck. Duh duh kalo kita yang ngomong kayak bagus gitu kedengerannya, coba kalo orang lain ngomong gitu ke kita? Hehe.. :P

Anyway, banyak hal yang bisa membuat saya serta merta kesel di jalan dan (tentu saja) mengeluarkan kata kata umpatan dari dalam kamus saya. Mungkin kalo ditulis di sini saya ga inget semua, tapi tiap berangkat atau pulang kerja, saya sepertinya ga pernah luput dari sebuah kejadian lalu lintas (lalin) yang bikin kesel! Salah satu yang paling nyebelin adalah waktu lagi macet macetnya, eh kendaraan di belakang (apalagi mobil!) malah mengklakson dengan kencengnya. What’s the point of that?! Apa dengan mengklakson tiba tiba jalan di depannya jadi kosong melompong trus dia bisa seenaknya lewat dengan lenggang kangkung? Bener bener nyebelin en ga masuk akal.

Trus trus.. yang akhir akhir ini sering saya alamin bukan masalah kendaraan lain, tapi lebih ke keadaan jalan. Saya heran de kenapa jalan jalan di Denpasar ini buanyak buanget lobangnya (sambil mikir ni kira kira orang orang yang terpampang di baliho kampanye itu nantinya kalo uda kepilih bakal ngelakuin sesuatu ga ya buat masalah ini?!). Ini ga terkecuali di Bypass Ngurah Rai! Bayangin pas kita lagi berkendara (sepeda motor lo ya!) dengan kecepatan tinggi, dan ga bisa mengantisipasi ada lobang di depan, trus tiba tiba motor kita terjungkal dengan indahnya. Gila gila.. gimana nasib motor itu ya? Pastinya jadi gampang rusak. Argh.. menyebalkan! Dan apesnya, saya sering sekali mengalami ini.

Trus trus.. yang ga kalah nyebelin, karena saya pulang malem, otomatis saya berkendara dengan keadaan lampu yang menyala. Tempat tinggal saya cukup jauh dari pusat kota dan jalan menuju ke arah sana masi sedikit jumlah lampu jalanannya. Yang bikin sebel, karena sedikitnya lampu jalan, ga sedikit mobil yang milih buat make lampu jauh buat ngelewatin jalan itu. Gapapa si kalo ga ada kendaraan di depan mobil mobil itu. Tapi gimana kalo ada saya? Duh silau en mengganggu banget! Paling sebel ama yang satu ini. Jadinya saya juga ga mo kalah dengan nyalain lampu jauh sampe mereka mengganti lampu normal!

Trus trus lagi.. bukannya saya ga respek ama polisi lalin dan tugasnya yang mulia. Tapi jujur aja saya paling sebel ama razia lalin. Bukan karena saya ga punya STNK ato SIM (C), tapi karena nurut saya kegiatan gini cuma buang buang waktu (terutama waktu saya di jalan dari rumah ke tempat kerja!). Bukannya lebih baik kalo emang pengen disiplin, diperketat di kantor kepolisian aja (bikin SIM, dll-nya). Jadi sebel de tiap ada razia saya harus ngeluarin STNK en SIM dari dompet, yang artinya saya harus melepas kaos tangan, membuka tas, dan membuka dompet! Fiuh! Dan untuk apa? Biar sedetik kemudian saya dibolehin pergi! That’s why I fuckin’ hate traffic wardens (ini diambil dari sebuah film, btw.. :P)!

Yak, begitulah. Saya keliatan emosi sekali di postingan ini. Haha. Kebawa keadaan di jalan. Ini saya masi untung di Denpasar, karena kayaknya macetnya masi wajar. Kalo saya tinggal di Jakarta ato kota lain yang lebih besar, saya bisa gila kali ya. Hahaha. Kalo kayak gini namanya bukan ‘love is a battle field’ lagi, tapi ‘traffic is a battle field’! :D

Monday, January 19, 2009

Disposable memories

If they're good you can keep them, if they're bad you can definitely chuck 'em! A piece of abandoned photograph amongst what it seemed to be leftovers of a temporary trash pond on land. Around Hayam Wuruk Street, Denpasar, when I was walking from a warung to get my late breakfast, last Sunday noon (my friend actually thought I was crazy for ever taking the picture).

Sunday, January 18, 2009

Butterfly: my first Polyvore set

A meeting with my old friend from Malang was canceled today (since, she had a tight schedule with her tour), so I was stuck in my office (after finishing my WANI of the week). And then I decided to try on Polyvore (have registered but haven’t tried it – didn’t manage to have the time). A meeting with my old friend from Malang was canceled today (since, she had a tight schedule with her tour), so I was stuck in my office (after finishing my WANI of the week). And then I decided to try on Polyvore (have registered but haven’t tried it – didn’t manage to have the time). And so yes, this is my first Polyvore set:

Butterfly

Butterfly Butterfly by nenoneno

It’s not really good.. or bad.. and I’m keen to make more. And oh, for everyone who ever reads my blog, and has an account, please do add me as your contact. Add me using my Polyvore name: nenoneno. And for those who haven’t joined, you should try it! It’s really fun! Thanks in advance! (:

Friday, January 16, 2009

One day at the mall

Hari ini (Jumat) jadwal saya jaga expo tempat kerja saya di Mall Bali Galeria (MBG) dari jam tiga sore sampe jam sembilan malem. Karena jadwal ini, saya hari ini pun libur ngajar. Seorang temen kerja saya memprediksi jaga expo itu bisa jadi ngebosenin karena ga banyak yang bakal daftar. Saran dia: bring your laptop and a book. Jadi sebelum berangkat tak lupa saya masukkan Mac ke dalam tas, berangan angan sapa tau bisa mampir (gayanya beli donat padahal mau numpang ngenet) di JCO buat wi-fi-an sebentar (kebetulan tadi pagi menjelang siang komputer di rumah tiba tiba bermasalah, while I really need to check my facebook! Argh..). Dan ga lupa sehelai (halah sehelai!) majalah. All set and I was ready to go. Nyampe di sana, saya ngobrol ngobrol ama customer service (yang lagi jaga expo juga) yang kebetulan adik kelas saya waktu SMA. Ternyata oh ternyata. Dia bilang expo hari kemaren rame banget! Bahkan waktu jam uda menunjukkan saatnya expo tutup, masi banyak yang antri untuk diwawancara. Fiuh, saya pun bersiap untuk ga bisa ngapa ngapain selain kerja (ya iyalah, emang ngapain ya ke sana?!). Dan ternyata bener, emang awal awalnya masi agak sepi karena di luar masi ujan. Tapi semakin malem keadaan jadi tambah rame. Si Mac sama sekali ga tersentuh. I met interesting people (sebagai calon murid). Sebagai contohnya saya ketemu one of the owners of Warung Warung, yang ternyata daftar mau kursus di tempat kerja saya (walopun Bahasa Inggris-nya uda jago banget! I don’t think he needs an English course.. haha!). Anyway, sekalian promosi ni ya, Mas (jangan lupa diskonannya belakangan, haha!), Warung Warung tu tempat makan yang cukup representatif di MBG. Suasananya ke-Sunda-Sunda-an (halah, ini bahasa apa ya?) dengan menu makanan a’la warung Indonesia. Yang asik di situ tu suasananya, cozy banget. Seringan ke sana ama Mba Verra ato Bhatari kalo pas maen ke MBG. Tapi ada satu lagi ni yang berkesan banget. Jadi tadi saya ngewawancarain seorang ibu ibu. Diliat dari perawakannya ibu ini uda ga muda lagi. Karena tadi cuma ada satu guru, jadi calon murid yang daftar harus nunggu dulu sebelum giliran wawancara. Dan sebelum saya ngobrol ama ibu ini ia sempat nunggu beberapa saat. Seperti biasa saya mulai dari pertanyaan pertanyaan umum. Seperti pekerjaan, tempat tinggal, keluarga. Waktu saya tanya soal apakah ibu ini menikah, beliau bilang iya (of course I knew, as a woman in her age). Nah waktu saya tanya berapa anak yang ia punya, jawabnya begini: saya dulu punya anak kembar (twins) perempuan, tapi mereka uda meninggal. Dan lalu ibu ini secara spesifik bilang kalo ia ga pengen diingatkan kembali. Matanya pun mulai berkaca kaca. And suddenly at that time I felt so sad and guilty, of ever asking that question. Dari murid murid dewasa (bukan anak sekolahan) yang pernah saya temui, banyak di antara mereka beralasan ikut kursus demi pekerjaan, tapi ternyata ibu ini bertujuan lain. Because I wasn’t brave enough to ask about her children, I asked about her daily activities instead. Tapi waktu saya tanya soal aktivitas sehari hari pun, ibu ini mulai berkaca kaca lagi. Lalu ia menjelaskan, dulu sewaktu ia masi punya anak, kegiatan sehari harinya adalah mengurus anak anaknya. Tapi karena sekarang mereka sudah ga ada, ibu ini ga punya banyak hal buat dikerjain. Dan itu sekaligus jadi alasan kenapa ia mendaftar kursus di tempat kerja saya, supaya ia bisa berhenti memikirkan anak anaknya (despite tha fact that her English was good!). Sungguh waktu ia menceritakan semua ini dengan suara bergetar dan mata berbinar sedih. Karena merasa uda cukup, saya pun menyudahi wawancara. Sambil memegang erat tangan ibu itu, saya bilang ke beliau mudah mudahan bisa ngambil manfaat dari kursus di sini. Bodohnya kenapa ga saya peluk atau rangkul saja ibu ini? Bodohnya. Tapi mungkin itu bakal lebih mengingatkan dia lagi (dan mungkin juga bakal menarik perhatian orang orang di sekitar). Hhh.. what ever may be inside her mind at that time, jujur saya ikut sedih sama apa yang dialami ibu itu. Dan saya bener bener berharap lambat laun ia happy kembali. Amin. Fiuh, what an experience in one day! Menyenangkan juga, terutama karena tadi lagi lagi saya belanja! Hahaha. Gimana mau ga belanja kalo stan kita berdiri di depan toko clothing! Wkwkwkwk. Yeah yeah, just blame it all to the shops (padahal salah mereka apa coba?!). Anyway, that’s a wrap for today. Mudah mudahan tulisan ini bisa dipos secepatnya mengingat komputer rumah lagi rusak. Hmpfh.. amin! (:

Wednesday, January 14, 2009

Facebook fever!

Wuih, akhir akhir ini saya jadi keranjingan facebook. Bukan. Bukan karena saya baru sign up, tapi lebih karena tiba tiba aja ada semacam ‘serbuan’ dari temen temen kuliah dulu yang secara serentak tiba tiba join facebook (dan meng-add saya tentunya) yang akhirnya berakibat akun facebook saya jadi super rame. Fiuh! Mungkin juga bisa jadi karena kejadian sial yang menimpa friendster beberapa waktu yang lalu, membuat beberapa teman (akhirnya) memilih facebook ketimbang friendster. Jadinya de, facebook saya sekarang semakin rame! Hehe! :D Kali pertama saya jatuh cinta ama facebook benernya bukan karena ajakan teman atau gimana, tapi gara gara baca sebuah artikel di majalah remaja. Saya sendiri lupa nama majalahnya, tapi yang jelas hasil pinjeman dari temen, waktu maen ke rumahnya. Di majalah itu ada ulasan tentang Mark Zuckerberg, the founder and CEO of facebook, yang waktu saya baca artikel itu saya terkaget kaget dan terkagum kagum kalo ternyata umur dia hampir sama dengan umur saya! Di situ juga ditulis, karena penemuannya ini (facebook) dia sekarang jadi salah satu orang terkaya di dunia. Dan yep, pikiran saya pun melayang layang membayangkan bagaimana kalo itu saya. Hehe. :P Karena tertarik dengan artikel itu, mulailah saya join facebook di awal taun kemaren. Awalnya si masi ribet cara makenya. Karena waktu itu sistem dan tampilannya masi old facebook (yang menurut saya ga terlalu bagus dibandingin yang baru sekarang) dengan banyak aplikasi yang ngebingungin cara ngontrol dan ngaturnya, saya masi bingung dan belum terlalu menguasai facebook. Ditambah lagi waktu itu sedikit sekali temen temen yang pake facebook (kebanyakan dari mereka – dan saya juga – masi make friendster), karena itu facebook saya bener bener sepi aktifitas. Baru masuk ke dunia kerja ternyata saya menemukan lebih banyak orang make facebook ketimbang friendster. Dan karena satu dan lain hal, saya pun menghapus akun friendster saya, dan memilih menggunakan facebook. Dan emang, facebook’s still the best! Mungkin alasan kenapa saya pindah rumah dari friendster ke facebook karena beberapa kekurangan dan kelebihan berikut: 1. Kalo di friendster kebanyakan penggunannya make nama ‘palsu’ atau panggilan atau asal asalan. Dan ini benar benar mengganggu karena risi juga kalo profil kita diliat oleh orang orang yang ga jelas juntrungan en asal muasalnya. Sementara kalo di facebook sebagian besar pasti make nama asli (panjang dan jelas!). Eh eh.. ternyata aku salah juga. Beberapa kali saya sempat nemuin beberapa akun yang pake nama panggilan atau nama singkat yang ga jelas di facebook. Kalo uda gini saya jadi males ngeliatnya, dan kalo saya di-add oleh orang orang macam ini (dan saya ga kenal pula), mending langsung saya ignore! 2. Entah kenapa kalo di friendster kita kayak berlomba lomba dapet banyak temen, walopun kita ga kenal siapa temen kita itu. Nah ini ni yang paling saya sebelin dari friendster. Dulu punya temen temen yang seperti ini dan ternyata sempat buat risi (ini juga alasan kenapa saya hapus akun friendster saya). Karena pengalaman ini akhirnya sekarang lebih hati hati milih temen buat di-confirm di facebook. Buat saya ga masalah punya temen dikit asal bener bener kenal, dan lebih baik lagi, yang punya hubungan baik dengan saya. Yang lain peduli amat dah! This is my facebook, I can do whatever I want with it! Hahah! :D Jadinya saya pun merasa facebook kayak rumah kecil yang bersahabat (dengan orang orang yang kita kenal!). Well, begitulah ceritanya sampe saya jadi facebook-fever-mania (istilah ini agak lebay sepertinya). Dan jangan heran kalo hampir tiap sepuluh menit saya ngecek email di hape buat liat notifications tentang ada kegiatan apa di facebook. Hihi sehabis nulis ini pun saya pasti bakal kembali ngecek! Anyway, how about you? Do you have fun joining facebook? Well, I really do hope so. Happy facebook-ing then ya! (:

Tuesday, January 13, 2009

Another award for you!

Well well, just wanna post this award. Thanks Noeqiah for giving me this award. Seperti biasa, award ini bisa diambil buat siapa aja temen temen yang mau. Silakan silakan. Help yourself ya. Don’t forget to link back. Thank you! (:

Sunday, January 11, 2009

When It Rains *)

I never feel happy about the rain. Everything about the rain is like.. being in a melodramatic movie full of sad songs. It’s.. simply depressing. Yet however depressing it might be, I think I decide to look for the right soundtrack to fill it in. *) When It Rains by Paramore

Saturday night’s flood!

[my Mio, the next day – in the aftermath]

It rains so hard now. Oh, and this is the day/ date: Sunday, January 11, 2009, and the time: 2.28 AM. It rained since Saturday night. I’m in my friend’s boarding house, staying in cause I couldn’t go home with my motorbike. There was (and still is) heavy rain, that I thought it was impossible to ride my motorbike through it. Well, actually it started when there was – oops, sorry, there were more than one – were leaks in my office’s ceilings so the water came in from the roof and left the whole corridor and some classes, the office, and the computer lab flooded or half-flooded. I think it’s simply because it’s an old building.

The thing is, there were these electrical appliances everywhere, like a big screen TV, computers, light bulbs (they’re electric, rite?), and air con, etc. How could you leave those things on while you have water everywhere around them? If we don’t sort this thing out, everyone will be left dead being electrocuted!

OK, back to the rain. So, seeing what happened to my office (the flood and the pouring water), I though this might be the heaviest rain from all the rain in this rainy season in Bali. Well, we had it one like this before, when at that time, the next day after that big rain, many parts and main roads of the city were filled with flood and it became headlines in the news ‘cause we never had anything like it. It is unlikely that Denpasar is the kind of city that has regular flood attack. So yeah, it was in the news.

And back to the flood. Well, we (I and my friend, Bhatari) finally managed to get through the rain by the time it wasn’t really heavy. It was OK at first, but when we got into the small alley in front of her boarding house, there was this huge pit that I didn’t expect to be that deep. As I rode my motorbike farther, the pit grew deeper as deep as my knee! And yep, as I was worried about, the engine of my Mio suddenly stopped! It was no surprised at all though; ‘cause the water was higher than the pedal (is this the rite term? Well, whatever). So we were practically drowned.

And when we arrived at Bhatari’s boarding house, the water was still knee-deep, and again, my motorbike had to face the same thing: drowned in the water! Fortunately it didn’t have to stay that way all night because now I put it on the porch, as it is higher than the ground. But still.. a bit worried if I’ll be able to start the machine tomorrow – let’s hope!

Wednesday, January 07, 2009

The New Year’s Blog Award

Rules:

  • You must be a true lover of the New Year to receive this award. The person to whom you give the award must also be in love with the New Year.
  • Post at least five New Year’s Resolutions. If you can’t limit it to five, then continue until you go out of space.
  • Pass the award along to as many bloggers as you like.
  • Let your recipients know that you have tagged them by leaving a comment on their site. Also, link back to the person who gave you the award.

First, I’d like to thank Rob, my new blogger friend from the Philippines for passing me this tag.

Um.. OK, to be honest, I’m a bit confused here. Even before New Year (January 1), I wondered whether I should make New Year’s resolutions. This is what I was thinking: why bother making resolutions if you can’t even be bothered to do any efforts? Well.. Um.. However, for the sake of this tag, I’ll try to make some resolutions, even though only five – wait, don’t you think five is quite enough?

OK, these are this year’s resolutions of mine (hopefully arranged by priority):

1. Be better financially, either through: a) Getting a better job, with better salary (yay! Just trying to be honest here.. haha!) – though I don’t think I’m prepared for the new challenge; or b) Having my own (small) business, even though it means that I have to prepare myself not to work any where else but dealing with my own business. Just wish me luck! (:

2. Gain more information and knowledge. Watch more movies. Write more writings. Buy more t-shirts. Eat more foods, trying as many kinds of food from all over the world as possible. Iron my own clothes. Do my own dishes. Wash my own laundry. Laugh more often. Laugh even more often and laugh even louder. Pay all my (cc) debts – basically this is the reason why I should get more money – and oh, also for the love of those t-shirts! Buy my own car – only if I really can!

3. Master at least one new software or anything about computer and technology – even though gosh, for me, this is a really deep thing! The thing is, it’s good to know things when people around you don’t even have a clue about what’s going on – tricky huh?!

4. Go traveling somewhere (really) nice with friends – try repeating our massive success! And hang out with friends (and my love!) more often. This will include me, trying to be more patient and nicer to others.

5. Live happier – through any way there is! :D

Aren’t those just the weirdest New Year’s resolutions you’ve ever read? I think my main issue this year is financial, thus #1 is the only thing counts. But so you know, those resolutions do not guarantee me to become a better person! Haha. Well, whatever. Since this tag is related to New Year and it is specifically written there that “The person to whom you give the award must also be in love with the New Year”, maybe I will just pass this tag to those who have written comments in my previous post about how I spent my New Year. And here they are:

Fu!/ Farrah, Dede, Emond, Febri, Chiko, Anna, Adel, Putri, Lidya, Kezialee, Abraham, @Coy, Naza, RIP, Ayu Susanti, Purpleworm, Sweety Honeyzz, Seno, Caris

OK, happy tagging, friends! Hope you’ll enjoy the tag and hope all your resolutions come true! Thanks a lot! (:

Saturday, January 03, 2009

New Year in Lembongan!

[pic #1: seseruan di Mushroom Bay]

Wuhui! Akhirnya lewat juga taun baru.. Dan akhirnya kegiatan seseruan yang dinanti nanti terlaksana juga. Jadi ceritanya aku ama temen temen pergi ke Pulau Nusa Lembongan (Lembongan) taun baru kemaren. Jadi Lembongan itu letaknya di sebelah tenggara Pulau Bali, sebelum Pulau Ceningan dan Pulau Nusa Penida.

Rencananya kita berangkat jam tujuh pagi naik perahu (jukung, Bahasa Bali-nya). Eh karena satu dan lain hal (seperti keterlambatan yang kayaknya sudah bisa diprediksi bakal terjadi), akhirnya kita berangkat naik perahu (yang ternyata ga sekecil yang aku duga. Hehe :P) yang jam delapan pagi, harga tiketnya 25 ribu perak, dan kita naik beserta penduduk setempat yang pada pulang kampung, lengkap dengan bergalon galon Aqua (sori nyebut merek), bertabung tabung gas elpiji, besi cor, batu kali, tas tas, dan barang barang lain yang entah buat apa. Fiuh rame kali..

Perjalanannya sendiri makan waktu satu setengah jam. Tapi nurut aku pas kita berangkat masi mending karena ga ‘nerabas’ ombak dan perahunya ga terlalu goyang goyang. Bandingin ama speed boat yang seharga 55 ribu perak yang kita naikin pas kita balik pulang. Lama perjalanannya emang singkat banget, cuma 35 menit-an, tapi bow, ngelawan ombak naik turun kayak naik roller coaster. Nyampe nyampe pusing banget jadinya..

Anyway, kita ke sananya bertujuh, including me, Adon, Bhatari, Mba Verra, Arry, Ramon, en Eka. As you might know it, Adon is my bf. Bhatari and Mba Verra are my friends from work. Arry itu sepupunya Mba Verra (yang juga merangkap ketua panitia, hihi :P), dan Ramon en Eka adalah temen temennya Arry. Nyampe di Lembongan kita langsung menuju penginapan yang namanya Adi Bungalows. Well, benernya ga kayak bungalo bungalo yang glamour gitu ya. Karena bangunannya lebih mirip rumah rumah Bali yang ada teras terbuka di depannya. Asiknya lagi, di depan bungalo ada warung semi restoran (apa aja de namanya, jadi bingung), jadi kita sekalian makan di situ. Letaknya bungalo-nya juga cuma beberapa meter dari pantai, jadinya tinggal jalan ga nyampe lima menit dari pantai.

[pic #2: Adi Bungalows’s sign, the place we stayed]

Abis naruh barang barang, ganti baju buat berenang, trus kita ke Mushroom Bay (lebih mirip nama pantai buat orang mabok ya?!) dan berenang renang di sana. Walopun ombaknya gede banget.. tapi tetep nekat nyebur nyebur en ga ketinggalan.. foto foto dong! :D Abis itu kita langsung keliling pulau dengan nyewa motor. Benernya ga banyak yang bisa dikunjungin. Tujuan pertama: makan (kerena uda kelaperan!). Kita makan nasi campur ala Bali di Warung Relax (sumpah, aku sendiri ngerasa lucu ama nama warungnya) di daerah Jungut Batu. Trus.. meluncur liat liat rumput laut lagi dijemur jemur (salah satu mata pencaharian utama penduduk sana) dan liat liat mangrove.

[pic #3: rumput laut yang sedang dijemur]

Setelah itu mampir ke jembatan berwarna kuning yang ngubungin antara Pulau Lembongan en Pulau Ceningan. Dan sampe di sana, mulai gerimis. Trus trus.. kita ke Gua Gala Gala. Ini ni tempatnya unik banget. Jadi gua itu bukan gua alami, but supposed to be a house yang dibuat oleh Made Byasa. He was a farmer and a shadow performer (Mangku Dalang). Karena terinspirasi cerita Mahabharata dimana para Pandawa membangun gua untuk sembunyi dari sang Kurawa, Made Byasa membangun gua ini untuk tempat tinggal. Dan dia membuatnya selama lima belas tahun! Kebayang ga si gimana determined-nya Bapak ini? Salut de! Selama proses pembuatan dari tahun 1961 sampe 1976, dia cuma make linggis. Dan sekarang yang jagain tempat ini adalah anaknya sendiri. Oya, biaya masuknya 10 ribu perak seorang.

[pic #4: seseruan di atas jembatan Pulau Ceningan]

[pic #5: mau masuk ke Gua Gala Gala – pose dulu dong! :P]

Selesai tur keliling pulau, kita berenang renang lagi. Tapi kali ini di daerah pelabuhan (jangan dibayangin pelabuhan yang super gede, it’s just a small island!) yang ombaknya ga gede. Trus pulang.. Malemnya, kita berenam beredar (biar eksis, kalo bahasanya Arry) di Mushroom Beach Restaurant/ Bar. Seseruan sendiri sambil ngeliatain Pulau Bali dari jauh (yang keliatan bagian Sanur). Si Adon ga ikut karena tidur di bungalo. Trus balik lagi, kita maen kartu di lantai dua ‘restoran’ depan bungalo sampe pergantian taun. Besoknya, kita berenang renang ke pantai lagi dan pulang naik speed boat yang jam satu siang.

[pic #6: di depan pelabuhan Pulau Lembongan – kecil kan? :D]

Fiuh, we had so much fun at that time! Dan hasilnya.. kaki ama tangan jadi pegel pegel sehari berikutnya.. Kalo ada kesempatan, liburan, en rejeki lagi, mau de jalan jalan ke tempat tempat seperti ini lagi. Cihuy! :D